BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Non-Probability Sampling
Terdapat beberapa pengertian non-probability sampling menurut para ahli, diantaranya yaitu sebagai berikut ini:
Pengertian Non-probability sampling Menurut Sugiyono (2016) Non probability sampling adalah teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel yang tidak memberi kesempatan atau peluang yang sama bagi setiap anggota populasi atau setiap unsur untuk dipilih menjadi sebuah sampel.
Pengertian Non Probability Sampling Menurut Ridwan (2015) Non probability sampling adalah teknik sampling yang tidak memberikan peluang atau kesempatan pada setiap anggota populasi untuk dijadikan sebagai anggota sampel.
Ditinjau dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Non-probability Sampling adalah teknik sampling yang memberikan kesempatan atau peluang yang tidak sama bagi setiap anggota populasi atau setiap unsur untuk dipilih sebagai sampel. Elemen-elemen sampel dipilih berdasarkan kebijaksanaan peneliti sendiri. Dalam non-probability sampling, tiap-tiap elemen tidak diketahui apakah mempunyai kesempatan menjadi elemen-elemen sampel tersebut ataukah tidak. Dalam sampel jenis ini, tidak seluruh elemen memiliki peluang untuk terpilih menjadi sample, dengan begitu temuan hasil studi yang memakai sampling jenis ini tidak bisa langsung digeneralisasikan sebagai sebuah hasil penelitian terhadap populasi.
B. Jenis-Jenis Non-Probability Sampling
1. Convenience Sampling
Convenience sampling akan dipilih seorang peneliti apabila penelitian sudah memiliki informasi mengenai elemen yang telah memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai sebuah sample penelitian tersebut.
2.Purposive Sampling
Purposive sampling adalah sebuah metode untuk penetapan sample yang dilakukan dengan cara menentukan target dari elemen populasi yang diperkirakan paling cocok untuk dikumpulkan datanya. Sampling yang purposive adalah sampel yang dipilih dengan cermat hingga relevan dengan desain penelitian. Peneliti akan berusaha agar dalam sampel itu terdapat wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Dengan demikian diusahakannya agar sampel itu memiliki ciri-ciri yang esensial dari populasi sehingga dapat dianggap cukup representatiif. Ciri-ciri apa yang esensial, strata apa yang harus diwakili, bergantung pada pertimbangan atau judgment peneliti. Itu sebab purposive sampling ini disebut juga judgmental sampling.
3. Quota sampling
Quota sampling yaitu jenis lain dari purposive sampling, untuk jenis sampling ini dalam menentukan banyaknya jumlah element yang terpilih sebagai sample akan ditentukan berdasarkan dari quota maksimal sebanding dengan komposisi tiap-tiap kelompok tersebut.
4. Judgement Sampling
Judgement Sampling adalah metode yang dipilih peneliti apabila peneliti menentukan subjek dari sample yang dipilih berdasarkan judgmement/ penilaian dari peneliti saja. Atau sama dengan purposive sampling.
5. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang awalnya jumlahnya kecil, lalu sampel ini disuruh untuk memilih teman-temannya untuk dijadikan sebagai sampel. Seperti itu seterusnya, sehingga jumlah sampel akan menjadi semakin banyak. Sampling ini dipilih bila kita ingin menyelidiki hubungan antar manusia dalam kelompok yang akrab, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar di kalangan tertentu, misalnya kalangan berprofesi tertentu seperti bagaimana doctor mengetahui tentang pemakaian obat baru, atau bagaimana orang menanamkan modal, dan sebagainya.
6.Sampling Aksidental
Sampling aksidental yaitu metode penentuan sampel atas dasar kebetulan yaitu siapa pun yang kebetulan bertemu dengan peneliti bisa digunakan sebagai sampel, jika rasa orang yang kebetulan ditemui tersebut cocok digunakan sebagai sumber data. Misalnya menanyakan siapa saja dijumpainya di tengah jalan untuk meminta pendapat mereka tentang sesuatu seperti kenaikan harga, keluarga berencana, peraturan lalu lintas, dan sebagainya. Karena sampel ini sama sekali tidak representative tentu saja tak mungkin diambil suatu kesimpulan yang bersifat generalisasi. Metode ini dilakukan sangat mudah, murah, dan cepat.
C. Memilih Sampel dengan Teknik Non-Probability Sampling
Pada keadaan tertentu, sering kali seorang peneliti menemui situasi bahwa syarat-syarat yang berlaku dalam teknik probabilitas tidak dapat dipenuhi. Contoh jumlah responder terlalu kecil, jumlah populasi tidak diketahui secara pasti, dan peneliti tidak tertarik dengan jumlah populasi tersebut. Untuk itu, teknik nonprobabilitas dapat digunakan. Ada empat macam teknik memilih sampel yang termasuk teknik nonprobabilitas. Ke empat teknik tersebut yaitu, accidental, purposive, quota, dan snowball yang akan dibahas seperti berikut.
1. Teknik Memilih Sampel Secara Kebetulan
Teknik memilih sampel yang pertama adalah memilih secara kebetulan atau accidental sampling. Teknik ini dikatakan secara kebetulan karena peneliti memang dengan sengaja memilih sampel kepada siapapun yang ditemuinya atau by accidental pada tempat, waktu, dan cara yang telah ditentukan.
Keuntungan yang paling tampak memilih teknik accidental adalah mudah dilakukan dan mudah memperoleh informasi yang diinginkan. Sedangkan kelemahan dari teknik ini yaitu, bias responden dan bias informasi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, maka diperlukan tindakan tambahan, misalnya dengan menanyakan identitas untuk meyakinkan bahwa mereka adalah orang-orang yang diinginkan sebagai anggota sampel.
2. Memilih Sampel dengan Teknik Bertujuan
Teknik memilih sampel yang termasuk nonprobabilitas adalah memilih sampel dengan dasar bertujuan. Teknik ini juga populer disebut dengan purposive sampling, karena untuk menentukan seseorang yang menjadi sampel atau tidak, didasarkan pada tujuan tertentu, misalnya dengan pertimbangan profesional yang dimiliki oleh si peneliti dalam usahanya memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.
Contoh memilih sampel dengan teknik bertujuan, misalnya para peneliti memilih para pedagang tertentu untuk memperoleh informasi tentang macam-macam harga barang, contoh lain seorang peneliti memilih guru SMK untuk memperoleh informasi tentang efektivitas praktik di sekolah. Peneliti memilih orang-orang tersebut sebagai sampel karena para peneliti mempunyai pertimbangan profesional yang kuat, misalnya merekalah orang-orang yang terlibat langsung dengan interes peneliti.
3.Memilih Sampel Secara Quota/Jatah
Memilih sampel secara kuota atau jatah, sering pula disebut dengan quota sampling. Pada teknik ini para peneliti menentukan besarnya jumlah responden yang akan menjadi anggota sampel. Peneliti menemui dan mengambil data yang diperlukan, sampai jumlah yang telah ditentukan dapat dicapai. Peneliti belum berhenti jika jumlah kuota yang telah direncanakan belum tercapai.
Teknik ini banyak digunakan dalam dunia pens, misalnya mereka ingin mendapatkan tingkat popularitas seorang pemimpin, mereka ingin mengetahui kinerja suatu badan yang dibentuk oleh pemerintah dan sebagainya. Dalam kasus kewartawanan, mereka biasanya menggunakan jasa telepon atas alat-alat lainnya yang praktis untuk bertemu dan bertanya pada respoden.
4. Memilih Sampel dengan Cara Snowball Sampling
Dikatakan snowball sampling karena seorang peneliti menentukan seseorang untuk menjadi anggota sampel atas dasar rekomendasi, atau anjuran orang yang telah lebih dahulu menjadi sampel. Contoh konsep snowball sampling, misalnya: seorang peneliti menentukan responder A untuk ditanya dan dijadikan narasumber. Setelah selesai responden A diminta untuk merekomendasi C dan D. C ditanya oleh peneliti untuk kemudian memberikan rekomendasinya pada E dan F. Sedangkan responden D memberikan rekomendasi pada responden P dan Q. Begitu seterusnya sehingga peneliti memperoleh jumlah sampel sesuai dengan yang telah direncanakan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam sebuah penelitian dibutuhkan pengambilan sampel untuk membantu proses penelitian. Dalam pengambilan smapel ada dua teknik yaitu, teknik pengambilan sampel secara acak atau secara random biasanya disebut dengan probability sampling, dan teknik pengambilan sampel dengan tenik tidak acak atau non-random disebut non-probability sampling.
Teknik pengambilan sampel secara non-probability sampling mempunyai beberapa jenis dimana peneliti harus menyesuaikan dengan apa yang diteliti. Teknik yang diambil peneliti tergantung kebijakan peneliti sendiri, dan harus memperhatikan syarat-syarat pengambilan teknik sampling.
B. SARAN
Demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Tentunya pasti terdapat kekurangan dan kesalahan dalam pembuatan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun kami sangat butuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Darmadi, Hamid. Dimensi-dimensi Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta. 2013
Nasution, S. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara. 2016
No comments:
Post a Comment