LINGKUNGAN PERKANTORAN
Achmad As’ari
Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri
Dosen Pengampu : Siska Yulia Weny M.Ak.
Email : aricahkediri@gmail.com
PENDAHULUAN
Lingkungan dalam sebuah perkantoran adalah tempat dimana para pekerja bekerja dan menjalankan segala macam tugasnya. Dalam sebuah perkantoran produktivitas para pegawai yang tinggi merupakan sebuah harapan bagi seluruh organisasi atau perusahaan, dimana lingkungan yang baik akan dapat mewujudkan tercapainya sebuah tujuan. Kondisi perkantoran yang nyaman akan sangat berpengaruh terhadap naik turunnya produktivitas para pegawai. Perusahaan pada umumnya yang ingin mengembangkan produktivitasnya maka akan ia akan memperbaiki atau bahkan meningkatkan lingkungan tempat kerjanya. Hal ini bermaksud agar para pegawai bisa terpacu untuk dapat lebih meningkatkan produktivitasnya dengan menyediakan beberapa fasilitas-fasilitas dalam lingkungan perusahaan.
Lingkungan kerja kantor ini haruslah berorientasi pada keinginan dan kebutuhan karyawan sehingga mereka nantinya akan dapat bekerja tanpa harus mengalami gangguan yang nantinya akan dapat mempengaruhi kenyamanan mereka di dalam bekerja. Oleh karena itu, maka untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih bagi para pembaca dalam mengerti dan memahami lingkungan perkantoran ini, maka dalam artikel ini akan dibahas mengenai lingkungan fisik kantor, lingkungan sosial kantor, tata ruang kantor, dan faktor-faktor efisensi kerja.
PEMBAHASAN
1. Lingkungan Fisik Kantor
Menurut Moekijat mengenai lingkungan fisik kantor, ia mengatakan bahwa, ‘‘Lingkungan fisik kantor adalah segala sesuatu yang ada atau berada disekitar para pekerja yang meliputi cahaya, warna, udara, suara serta musikyang akan mempengaruhi dirinya didalam menjalankan segala tugas-tugas yang telah dibebankan kepadanya’’. Berbeda dengan The Liang Gie, ia berpendapat bahwa, ‘‘ Lingkungan fisik merupakan segenap faktor fisik, yang bersama-sama merupakan suatu susunan fisik yang melingkupi suatu tempat kerja.’’.Berdasarkan pendapat dari kedua tokoh tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, lingungan fisik kantor adalah segala sesuatu yang melingkupi tempat kerja yang secara fisik keberadaannya disekitar pekerja dimana hal ini dapat mempengaruhi ia didalam menjalankan tugasnya. Lingkungan kantor atau sering disebut juga dengan lingkungan kerja
menyiratkan kondisi tempat kerja pekerjaan kantor itu dilakukan, dimana lingkungan ini terdiri dari berbagai unsur komponen (peralatan, pencahayaan, kualitas udara, ventilasi, kebersihan, dan lain sebagainya) yang saling bergantung dalam upaya meningkatkan efisiensi kerja karyawan.
2. Lingkungan Sosial Kantor
Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan hidupnya selalu saja membutuhkan orang lain didalam melakukan segala hal, karena pada dasarnya manusia itu sendiri tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Begitu pula manusia didalam lingkungan pekerjaannya selalu saja ia membutuhkan orang lain didalam menjalankan pekerjaannya guna mencapai hasil kerja yang semaksimal mungkin. Menurut Aushi Arabella dalam sebuah blognya ia mengatakan bahwa ‘‘Lingkungan sosial kantor, ialah menunjukkan pada hubungan antar-orang yang terlibat didalam kantor’’. Dengan demikian hubungan sosial dalam perkantoran ini, sangat diperlukan untuk menyadarkan dan memahami peranan dan kedudukan masing-masing dengan tidak melakukan perbuatan yang sewenang-wenangnya. Menurut sasaran komunikasi dan tujuannya, maka komunikasi yang terjalin didalam hubungan personil dilingkungan sosial kantor, maka dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
a. Komunikasi Formal, yaitu komunikasi yang dilakukan dalam situasi
formal, sehingga bahasa/istilah/ungkapan yang digunakan harus merujuk
kepada kondisi formal.
b. Komunikasi Informal, yaitu komunikasi yang dilakukan dalam hubungan
keseharian, baik antar teman maupun dengan bawahan.
c. Komunikasi Internal, yaitu komunikasi yang terjalin dan melibatkan
personil-personil dalam lingkup satu kantor.
d. Komunikasi Eksternal, yaitu komunikasi yang terjalin dengan
pihak/organisasi diluar lembaga kerja tersebut.
e. Komunikasi Vertikal, yaitu komunikasi yang menunjuk pada kedudukan
atau jabatan dalam organisasi.
f. Komunikasi Horizontal, yaitu komunikasi antar teman atau sesama pegawai.
3. Tata Ruang Kantor
Menurut Trisna Admidjaja dalam Zerry Febryan, dkk menyatakan
bahwa ‘‘ Ruang merupakan wujud fisik suatu wilayah dalam dimensi
geografis dan geometris yang merupakan suatu tempat bagi manusia dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan kehidupannya dalam suatu kualitas
kehidupan yang lebih layak. Sedangkan penataan ruang yaitu suatu sistem
proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan tata ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang.’’
Sedangkan menurut Sedarmayanti dalam Zaid Habibie ia menyatakan
bahwa ‘‘Tata ruang kantor ialah pengaturan serta penyusunan seluruh mesin
kantor, alat perlengkapan kantor, dan perabot kantor pada tempat yang tepat,
sehingga karyawan dapat bekerja dengan baik, nyaman, leluasa dan bebas
untuk bergerak, sehingga tercapailah efesiensi kerja.’’ Berdasarkan paparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwasanya tata ruang kantor ialah upaya dalam perencanaan, pengaturan dan
penyusunan seluruh peralatan, perlengkapan dan perabotan kantor pada tempat
yang tepat guna agar para karyawan dapat bekerja dengan baik dan merasa
nyaman sehingga akan tercapainya efektivitas dan efesiensi kerja.
Sedarmayanti dan Eko mereka mengatakan bahwa fungsi tata ruang
kantor tidak hanya menempatkan perlengkapan dan peralatan kantor pada
suatu tempat, tetapi tata ruang kantor harus dapat digunakan sebagai alat untuk
mengatur dan memudahkan pergerakkan alur kerja para karyawan dari suatu
ruang keruang lainnya. Ia menambahkan dalam mengukur suatu kondisi baik
atau tidaknya penataan suatu kantor, maka dapat dilihat dari beberapa
indicator berikut, yaitu : (1) Penerangan/cahaya ; (2) Temperatur/suhu ; (3)
Kelembaban ; (4) Sirkulasi udara ; (5) Kebisingan ; (6) Getaran mesin ; (7)
Bau-bauan ; (8) Tata warna ; (9) Dekorasi ; (10) Musik ; dan (11) Keamanan
yang ada ditempat kerja.
4. Faktor-Faktor Efisiensi Kerja
Menurut Mulyadi ia mengatakan bahwa efisensi sering kali dikaitkan
dengan kinerja suatu organisasi, karena efisiensi mencerminkan perbandingan
antara keluaran (ouput) dengan masukan (input). Dalam berbagai literatur,
efesiensi sering juga dikatakan sebagai produktivitas, karena ia sama-sama
menilai hasil variabel input dan variabel output.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa efisensi
kerja karyawan adalah hasil kerja yang dicapai (output). Baik kualitas maupun
kuantitas yang dicapai oleh sumber daya manusia pada suatu periode waktu,
dengan melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikannya.
Oleh karena itu, perusahaan haruslah melakukan manajemen efisensi
kerja karyawan yaitu dengan merumuskan tujuan yang ingin dicapai, yaitu
dengan melalui menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan
bawahannya. Efisensi kerja karyawan yang tinggi akan tercipta, apabila
adanya : (1) atribut individu, yaitu yang meliputi faktor individu itu sendiri (kemampuan atau keahlian) dan faktor psikologis (persepsi, attitude,
personality, dan motivasi); (2) upaya kerja, yaitu upaya yang berkaitan dengan
keinginan untuk mencapai sesuatu; dan (3) dukungan organisasi yang meliputi
sumber daya, kepemimpinan, lingkungan kerja, struktur organisasi dan desain
pekerjaan.
KESIMPULAN
Dalam kehidupan suasana bersih, nyaman dan tentram amatlah
diinginkan dan diharapkan oleh setiap orang maupun perusahaan didalam
menjalankan segala aktivitasnya, sehingga dengan demikian hasil yang efektif dan
efisien akan dapat tercapai. Dalam upaya mewujudkan hal tersebut maka salah
satu caranya adalah dengan memperhatikan kenyamanan bagi karyawannya.
Suasana yang nyaman akan dapat membangun mood atau semangat lebih untuk
karyawan didalam meningkatkan produktivitasnya.
Hal tersebut akan dapat berjalan dengan baik maka salah satunya
adalah dengan menyediakan fasilitas-fasilitas cukup yang diperlukan oleh
karyawan, seperti pencahayaan yang baik, ventilasi udara yang baik, air yang
bersih, serta kebersihan tempat kerja dan lain sebagainya. Disamping itu pula
lingkungan sosial kantor haruslah mendukung juga agar komunikasi didalam
menjalankan pekerjaan dapat terjalin dan terbina dengan baik supaya tujuan dapat
terwujud sesuai dengan harapan yang ingin dicapai. Penataan tata ruang kantor tak
luput juga harus diperhatikan agar penataan ruang yang tepat sesuai dengan
tempatnya maka akan dapat mempermudahkan karyawan didalam melakukan
tugas pekerjaannya.
DAFTAR RUJUKAN
Aggraeni, Widi dan Tjutju Yuniarsih .2017.Dampak Tata Ruang Kantor Terhadap
Efektivitas Kerja Pegawai Dinas Pendidikan Kota Bandung. Jurnal
Pendidikan Manajemen Perkantoran. 2(2): 105-112.
Arabella, Aushi.2015. Bab 7 Fasilitas dan Lingkungan Kantor. Di
http://aushiarabella.blogspot.com/2015/02/bab-7-fasilitas-dan-lingkungan-
kantor.html?m=1 (Diakses pada 30 Maret 2020)
Susantini, Santi, dkk. 2017. Lingkungan dan Kondisi Fisik Tata Ruang kantor. Di
http://referensi-plus.blogspot.com/2017/02/lingkungan-dan-kondisi-fisik-
tata-ruang.html?m=1 (Diakses pada 30 Maret 2020)
Syaifuddin.2016. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Kerja
Karyawan pada PT. Petro Fajar Berlian, Medan. Jurnal Sultanist. 5(2): 50-
58.

No comments:
Post a Comment